Tuesday, September 1, 2026
HomeSeni dan BudayaDelegasi Jerman Dan Bali Hangatkan Malam Pertama SIPA 2014

Delegasi Jerman Dan Bali Hangatkan Malam Pertama SIPA 2014

Published on

- Advertisement -spot_img

DELEGASI-JERMAN-DAN-BALI-HANGATKAN-MALAM-PERTAMA-SIPA-2014_

Ketika mendengarkan Gus Teja dalam kondisi mata tertutup, memaksa imajinasi memvisualkan aliran sungai yang tenang dengan latar belakang gunung dan sawah terbentang. Malam itu Gus Teja World Music tampil menghipnotis setiap yang hadir di hari pertama SIPA 2014, Kamis (11/9/2014).

Tampil kedua setelah penampilan energik Soren Magnus Niewelt dan Jessica Sarah Larbig yang tergabung dalam delegasi Just Live Dance asal Jerman, duo balet itu menampilkan emosi mendalam yang disiratkan dalam olah tubuhnya.

Dalam karya “Together Apart”, permainan musik klasik mengiringi setiap gerakan, menceritakan kondisi emosional seseorang yang pada awalnya bersama, tapi suatu waktu harus terpisah oleh kondisi. Dengan simbolisasi merengkuh kain putih yang terbentang, mereka berusaha kembali menggapai momen itu.

Jessica menerangkan bahwa mereka hanya membutuhkan waktu tiga minggu untuk mempersiapkan materi. “Dia [Soren] sangat ‘gila’. Dia sangat cepat membuat  gerakan,” bebernya ketika ditemui wartawan di Media Center SIPA 2014 usai mereka tampil.

Gerbang belakang Benteng Vastenburg yang disorot lighting, ditambah bulan benderang dengan tambahan angin semilir, belum lagi menyimak Gus Teja dan kawan-kawannya memainkan setlist-nya, nuansa damai nan teduh benar-benar tercipta. Grup musik etnik instrumental asal Bali yang telah menelurkan dua album itu, membawakan enam lagu termasuk single yang mengorbitkan nama mereka, “Morning Happiness”.

Gus Teja yang menjadi motor grup sekaligus dapur melodi, tampak berganti-ganti alat musik tiup di setiap lagunya. Ia memainkan suling Bali, ocarina, American flute, pan flute, shakuhachi. “Total ada sekitar sembilan jenis alat musik yang berbeda,” jelas Gus Teja di sesi jumpa pers. Selain melakukan pendekatan lewat instrumen khas Bali, mereka tak lupa menambahkan sequencer untuk menambah kesan ambient.

Menurutnya berada di panggung SIPA 2014 merupakan pengalaman berharga bagi dirinya dan teman-temannya. Ia menuturkan bahwa respon masyarakat Solo cukup bagus. Bahkan CD album pertama dan kedua yang mereka jual di venue juga laris diburu.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Kemeriahan Konser Harmony Manikam Nusantara di Ndalem Ndjojokoesoeman

Soloevent.id - Konser orkestra "Harmony Manikam Nusantara" bersama Svara Dhananjaya Music Orchestra sukses digelar...

Satu Dekade Dayskomvis! Intip Pameran Desain ‘Interplay Visual Noise’ di Gedung Djoeang 45

Soloevent.id - Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual (DKV) telah sukses menggelar acara Dayskomvis...

Tradisi Puncak Sekaten! Intip Semarak Grebeg Mulud 2026 Keraton Surakarta

Soloevent.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Grebeg Mulud 2026 di halaman Masjid Agung...

More like this

Tradisi Puncak Sekaten! Intip Semarak Grebeg Mulud 2026 Keraton Surakarta

Soloevent.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Grebeg Mulud 2026 di halaman Masjid Agung...

Eksplorasi Peran Perempuan Keraton: Retno Sulistyorini Pentaskan KEPUTREN di TBJT

Soloevent.id - Retno Sulistyorini sukses menampilkan karya terbarunya yang berjudul KEPUTREN di Teater Arena...

Ketika Seni Turun ke Jalan : Pre-Event 2 SIPA 2026 Guncang Koridor Gatsu

Surakarta, 22 Agustus 2026 — Menjelang gelaran utama Solo International Performing Arts (SIPA) 2026,...