Monday, May 25, 2026
HomeSeni dan BudayaDelegasi Jerman Dan Bali Hangatkan Malam Pertama SIPA 2014

Delegasi Jerman Dan Bali Hangatkan Malam Pertama SIPA 2014

Published on

- Advertisement -spot_img

DELEGASI-JERMAN-DAN-BALI-HANGATKAN-MALAM-PERTAMA-SIPA-2014_

Ketika mendengarkan Gus Teja dalam kondisi mata tertutup, memaksa imajinasi memvisualkan aliran sungai yang tenang dengan latar belakang gunung dan sawah terbentang. Malam itu Gus Teja World Music tampil menghipnotis setiap yang hadir di hari pertama SIPA 2014, Kamis (11/9/2014).

Tampil kedua setelah penampilan energik Soren Magnus Niewelt dan Jessica Sarah Larbig yang tergabung dalam delegasi Just Live Dance asal Jerman, duo balet itu menampilkan emosi mendalam yang disiratkan dalam olah tubuhnya.

Dalam karya “Together Apart”, permainan musik klasik mengiringi setiap gerakan, menceritakan kondisi emosional seseorang yang pada awalnya bersama, tapi suatu waktu harus terpisah oleh kondisi. Dengan simbolisasi merengkuh kain putih yang terbentang, mereka berusaha kembali menggapai momen itu.

Jessica menerangkan bahwa mereka hanya membutuhkan waktu tiga minggu untuk mempersiapkan materi. “Dia [Soren] sangat ‘gila’. Dia sangat cepat membuat  gerakan,” bebernya ketika ditemui wartawan di Media Center SIPA 2014 usai mereka tampil.

Gerbang belakang Benteng Vastenburg yang disorot lighting, ditambah bulan benderang dengan tambahan angin semilir, belum lagi menyimak Gus Teja dan kawan-kawannya memainkan setlist-nya, nuansa damai nan teduh benar-benar tercipta. Grup musik etnik instrumental asal Bali yang telah menelurkan dua album itu, membawakan enam lagu termasuk single yang mengorbitkan nama mereka, “Morning Happiness”.

Gus Teja yang menjadi motor grup sekaligus dapur melodi, tampak berganti-ganti alat musik tiup di setiap lagunya. Ia memainkan suling Bali, ocarina, American flute, pan flute, shakuhachi. “Total ada sekitar sembilan jenis alat musik yang berbeda,” jelas Gus Teja di sesi jumpa pers. Selain melakukan pendekatan lewat instrumen khas Bali, mereka tak lupa menambahkan sequencer untuk menambah kesan ambient.

Menurutnya berada di panggung SIPA 2014 merupakan pengalaman berharga bagi dirinya dan teman-temannya. Ia menuturkan bahwa respon masyarakat Solo cukup bagus. Bahkan CD album pertama dan kedua yang mereka jual di venue juga laris diburu.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Meski Balon Udara Gagal Terbang, Warga Tetap Padati Alun-Alun Utara Solo

Soloevent.id - Belasan balon udara yang disiapkan manajemen Bank Jateng Syariah Cabang Solo dalam...

Dari Kuliner Viral sampai Guyon Waton, Ini Keseruan Uleg Bazar Kuliner 2026 di Mangkunegaran

Soloevent.id - Uleg Bazar Kuliner (UBK) 2026 digelar pada 14 hingga 17 Mei 2026...

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

More like this

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

Semarak Budaya Indonesia 2026 Kembali Hadir di Solo Bawa Semangat “Swarna Bumi Bahari”

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 sebagai agenda tahunan Kota Surakarta kembali digelar...

26 Delegasi Dari 23 Daerah Siap Meriahkan Event Semarak Budaya Indonesia 2026

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 kembali menghadirkan perhelatan budaya yang mempersatukan keberagaman...