Thursday, June 11, 2026
HomeSeni dan BudayaDelegasi Jerman Dan Bali Hangatkan Malam Pertama SIPA 2014

Delegasi Jerman Dan Bali Hangatkan Malam Pertama SIPA 2014

Published on

- Advertisement -spot_img

DELEGASI-JERMAN-DAN-BALI-HANGATKAN-MALAM-PERTAMA-SIPA-2014_

Ketika mendengarkan Gus Teja dalam kondisi mata tertutup, memaksa imajinasi memvisualkan aliran sungai yang tenang dengan latar belakang gunung dan sawah terbentang. Malam itu Gus Teja World Music tampil menghipnotis setiap yang hadir di hari pertama SIPA 2014, Kamis (11/9/2014).

Tampil kedua setelah penampilan energik Soren Magnus Niewelt dan Jessica Sarah Larbig yang tergabung dalam delegasi Just Live Dance asal Jerman, duo balet itu menampilkan emosi mendalam yang disiratkan dalam olah tubuhnya.

Dalam karya “Together Apart”, permainan musik klasik mengiringi setiap gerakan, menceritakan kondisi emosional seseorang yang pada awalnya bersama, tapi suatu waktu harus terpisah oleh kondisi. Dengan simbolisasi merengkuh kain putih yang terbentang, mereka berusaha kembali menggapai momen itu.

Jessica menerangkan bahwa mereka hanya membutuhkan waktu tiga minggu untuk mempersiapkan materi. “Dia [Soren] sangat ‘gila’. Dia sangat cepat membuat  gerakan,” bebernya ketika ditemui wartawan di Media Center SIPA 2014 usai mereka tampil.

Gerbang belakang Benteng Vastenburg yang disorot lighting, ditambah bulan benderang dengan tambahan angin semilir, belum lagi menyimak Gus Teja dan kawan-kawannya memainkan setlist-nya, nuansa damai nan teduh benar-benar tercipta. Grup musik etnik instrumental asal Bali yang telah menelurkan dua album itu, membawakan enam lagu termasuk single yang mengorbitkan nama mereka, “Morning Happiness”.

Gus Teja yang menjadi motor grup sekaligus dapur melodi, tampak berganti-ganti alat musik tiup di setiap lagunya. Ia memainkan suling Bali, ocarina, American flute, pan flute, shakuhachi. “Total ada sekitar sembilan jenis alat musik yang berbeda,” jelas Gus Teja di sesi jumpa pers. Selain melakukan pendekatan lewat instrumen khas Bali, mereka tak lupa menambahkan sequencer untuk menambah kesan ambient.

Menurutnya berada di panggung SIPA 2014 merupakan pengalaman berharga bagi dirinya dan teman-temannya. Ia menuturkan bahwa respon masyarakat Solo cukup bagus. Bahkan CD album pertama dan kedua yang mereka jual di venue juga laris diburu.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Targetkan 7.000 Pelari: Solo Run Fest 2026 Padukan Olahraga, Budaya & Tren Kalcer!

Soloevent.id - Solo Run Fest 2026 kembali digelar, memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ajang lari...

Praktik Langsung, Siswa Broadcasting dan Film SMKN 7 Surakarta Gelar Karya Film Pendek dan Video Musik

Soloevent.id - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Surakarta menggelar kegiatan gelar karya di...

Madreya EO Sukses Gelar “Nge-Lawak Berbudaya” Di Koat Coffee Kartasura

Kartasura, 17 Mei 2026 - Madreya EO, kelompok event organizer yang beranggotakan mahasiswa semester...

More like this

Kirab Bhinneka Gandekan 2026, Tampilkan Berbagai Potensi Budaya Kelurahan Gandekan

Soloevent.id - Kirab Bhinneka Gandekan kembali digelar di Kelurahan Gandekan Solo, Senin (1/6/2026). Event...

Edisi Dasawarsa, Festival Literasi Nasional 2026 Gelar Pentas Karya di Pasar Triwindu

Soloevent.id - Festival Literasi Nasional 2026 kembali digelar di Kota Solo, Jumat-Minggu (22-24/5/2026). Ini...

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...