Soloevent.id – Solo Documentary Festival kembali digelar pada Jumat-Minggu (23-25/10/2026) di Hook Omah Sinten Solo. Festival ini menjadi sebuah ruang pertemuan dan perayaan bagi dokumenteris atau pembuat film dokumenter serta masyarakat untuk berbagi perspektif mengenai beragam cerita dan persoalan kehidupan yang layak untuk dilihat, didengar, dan dipahami bersama.
Tema yang diusung tahun ke-6 ini adalah “Fase” yang mana menggambarkan perubahan dan masa peralihan dalam kehidupan. Melalui tema tersebut, SODOC 2026 ingin menjaga agar film dokumenter tetap relevan. Tidak hanya sebagai karya yang ditonton, tetapi juga sebagai medium untuk memahami dan membicarakan berbagai persoalan di sekitar.
Opening ceremony digelar pada Jumat, 23 Oktober 2026 dengan menghadirkan Mbambung Duos yang terdiri dari Ki Arko Kilat dan Ki Riwus Ginanjar. Mereka menampilkan pertunjukan Wayang Jemblung sebagai mediun untuk mengolah pengalaman empiris menjadi pertunjukan yang mengeksplorasi komedi satire, eksperimentasi dan kritik sosial dalam merespon realitas sehari-hari. Acara dilanjutkan dengan pemutaran dan diskusi tentang Film Layar Dhayoh Tutaha Subang : A Tale for My Daughter karya Wulan Putri. Film ini bercerita tentang sebuah dongeng untuk anak yang mengajak penonton untuk menyelami perjalanan emosional Rikarda Maa melalui suratnya kepada putrinya Mila. Ditengah ekspansi perkebunan kelapa sawit yang mengancam tanah adat suku Awyu.

Lalu, Rangkaian Solo Documentary Film Festival (SODOC) 2026 juga telah dimulai dengan pembukaan penerimaan karya pada 11 Maret hingga 30 Juni 2026. Selama periode tersebut, penyelenggara menerima 64 film dokumenter dari berbagai daerah yang kemudian melalui proses kurasi untuk menentukan karya-karya yang akan ditayangkan dalam festival. Dari keseluruhan karya yang masuk, terpilih 15 film yang terbagi dalam empat kategori, yaitu kompetisi pelajar sebanyak 3 film, kompetisi mahasiswa 5 film, eksebisi Solo 2 film, dan eksebisi umum 5 film. Seluruh film terpilih akan menjadi bagian dari rangkaian pemutaran SODOC 2026 yang berlangsung pada 23-25 Oktober 2026. Rangkaian festival tersebut akan mencapai puncaknya melalui malam penganugerahan sebagai bentuk apresiasi terhadap film dokumenter terbaik pilihan juri dan film favorit penonton.
Selain itu, Solo Documentary (SODOC) Film Festival 2026 juga mengajak penonton berdonasi untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (kahutla) yang masif terjadi di Indonesia. Langkah tersebut selaras dengan proyeksi festival yang tidak hanya berfokus pada perayaan, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan peduli terhadap realitas yang terjadi di masyarakat. Ada tiket untuk menonton film di Sodoc Film Festival mulai dari Rp10.000 yang sebagian dari hasil penjualan tiket nantinya didonasikan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan yang masif terjadi di Indonesia.
Direktur SODOC Film Festival 2026, Annisa Suryadani mengatakan, “Solo Documentary Festival 2026 digelar dengan menghadirkan dua program utama yaitu Pawon (Program Pemutaran dan Pasemon (Program Non Pemutaran). Pemilihan nama-nama program ini, kami lakukan sebagai bagian dari upaya kami merawat pendekatan kehidupan sehari-hari. Kami percara gagasan yang besar tidak harus selalu dengan istilah yang rumit. Maka kami memilih menggunakan nama-nama makanan solo sebagai program kompetisi layar film seperti Layar Liwet, Layar Selat, Layar Tengkleng dan Layar Brambang Asem. Dengan acara ini, kami berharap bahwa festival SODOC bukan ruang yang terpisah dari kenyataan. Apa yang kita tonton dan perjuangkan menjadi bagian dari solidaritas untuk kehidupan yang ada diluar sana,” ujarnya saat membuka acara, Jumat Malam (23/10/2026).




