Monday, October 19, 2026
HomeSeni dan BudayaMenanti Datangnya Godot Di Mimbar Teater Indonesia 2014

Menanti Datangnya Godot Di Mimbar Teater Indonesia 2014

Published on

- Advertisement -spot_img

mimbar-teater-indonesia-2014

Setelah sempat mengangkat tema karya Putu Wijaya dan Arifin C. Noer, kini Mimbar Teater Indonesia 2014 (MTI) edisi keempat hadir dengan tajuk “Waiting for Godot”. Naskah karya Samuel Beckett itu akan diapresiasi dalam berbagai pendekatan teater, pantomim, dan tari pada 23-28 September 2014, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

Tak hanya pegiat seni dalam kota saja yang turut berpartisipasi, empat penyaji dari luar kota juga turut meramaikan ajang tahunan ini. Mereka adalah Bengkel Mime (Yogyakarta, 24 September), Sinergi Teater (Makassar, 25 September), Sena Didi Mime Indonesia (Jakarta, 26 September), dan Surabaya Dance Collective (Surabaya, 27 September). Kota Solo diwakili oleh Kelompok Seni Macacarita (23 September) dan Studio Taksu (28 September).

Menurut salah seorang penggagas Mimbar Teater Indonesia, Hanindawan Soetikno, tema “Waiting for Godot” dipilih karena kontekstual dengan kondisi Indonesia pada masa sekarang. “Bangsa ini sedang menunggu-nunggu, apalagi dengan situasi pergantian pemimpin seperti sekarang ini,” jelasnya saat ditemui Soloevent, usai pementasasan hari pertama, Selasa (23/9/2014).

Terkait dengan sajian, para penampil dibebaskan melakukan pendekatan sesuai bidang seninya masing-masing, asalkan tetap mengacu pada benang merah “Waiting for Godot”. Sesuai keterangan Hanindawan, setiap penyaji, harus melalui tahap kuratorial terlebih dahulu, dinilai dari aktivitas kelompok-kelompok tersebut. “Jadi yang masih aktif, yang masih cukup eksis, yang ada proses kegelisahan, itulah yang kami undang,” imbuhnya.

Halim HD selaku kurator Mimbar Teater Indonesia 2014, dalam kata sambutannya ketika membuka pergelaran, menuturkan bahwa  tema “Waiting for Godot” menarik untuk diangkat. Karena tema itu telah menjadi bahan pembicaraan, kajian, dan festival. “Ini menjadi sesuatu yang menarik bagi masyarakat. Karena dalam naskah itu terdapat harapan, pencarian, dan penantian. Sangat sesuai dengan kondisi sekarang,” jelasnya.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Misteri Rumah Tua & Ritual Sesat: Siap-Siap Nonton Film Rambut Sewu 5 November!

Soloevent.id - Genre film horor masih menjadi genre yang banyak diminati oleh penonton. Dengan...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

More like this

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...