Thursday, June 11, 2026
HomeSeni dan BudayaIIMF Hadirkan Cara Baru Nikmati Tari Topeng Panji

IIMF Hadirkan Cara Baru Nikmati Tari Topeng Panji

Published on

- Advertisement -spot_img

IIMF HADIRKAN CARA BARU NIKMATI TARI TOPENG PANJI-post

“Satus, seket, satus, seket, buka sitik jos! Asolole!”

Begitulah senggakan yang diteriakkan oleh para pemusik yang mengiringi 25-an penari kuda lumping Semarak Candra Kirana Art Center. Seiring bunyi sompret yang meliuk-liuk, kendang yang ditabuh bertalu-talu, para penari tadi bergoyang-goyang sembari mengeluarkan pecut (cemeti). Mereka kemudian turun panggung, untuk menyambut pasukan Red Batik yang mengenakan kostum dari bambu. Setelahya, mereka berlenggak-lenggok bersama.

Cuplikan di atas merupakan upacara pembuka dari Indonesia International Mask Festival (IIMF). Festival perdana garapan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ini dibuka pada Minggu (14/9/2014), dan akan dilangsungkan hingga hari Senin (15/9/2014). Selama dua hari penyelenggaraan,  turut dimeriahkan oleh 13 delegasi baik dari dalam maupun luar negeri, dan akan berlangsung di dua tempat yakni Benteng Vastenburg dan Teater Besar ISI Solo.

Di perhelatan hari pertama, panggung Solo International Performing Arts (SIPA) 2014 yang telah purna, disulap kembali menjadi wadah seni, dengan tambahan display Tari Topeng Panji di kanan-kiri panggung. Ya, roman Panji memang sengaja dimunculkan kembali sebagai pengingat generasi muda tentang kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Ini adalah kekayaan yang harus dilestarikan. Dari cerita Tari Topeng Panji, telah berkembang bermacam-macam ide kesenian,” jelas Ketua Penyelenggara Indonesia International Mask Festival, Irawati Kusumorasri. Kisah Panji yang bermula dari abad ke-12 di Jawa Timur tersebut sudah menyebar ke segala pelosok Nusantara, bahkan hingga Semenanjung Melayu, Malaysia, Muangthai, Myanmar, dan Filipina. “Dari festival ini diharapkan agar masyarakat lebih mengenal kebudayaannya. Acara ini akan dikemas menjadi daya tarik baru,” tuturnya.

Sementara dalam kata sambutannya, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Desain, Media dan Iptek Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Hari Waluyo, mengatakan bahwa dengan adanya IIMF diharapkan menjadi promosi karya seni dan budaya, agar diapresiasi masyarakat luas.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Targetkan 7.000 Pelari: Solo Run Fest 2026 Padukan Olahraga, Budaya & Tren Kalcer!

Soloevent.id - Solo Run Fest 2026 kembali digelar, memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ajang lari...

Praktik Langsung, Siswa Broadcasting dan Film SMKN 7 Surakarta Gelar Karya Film Pendek dan Video Musik

Soloevent.id - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Surakarta menggelar kegiatan gelar karya di...

Madreya EO Sukses Gelar “Nge-Lawak Berbudaya” Di Koat Coffee Kartasura

Kartasura, 17 Mei 2026 - Madreya EO, kelompok event organizer yang beranggotakan mahasiswa semester...

More like this

Kirab Bhinneka Gandekan 2026, Tampilkan Berbagai Potensi Budaya Kelurahan Gandekan

Soloevent.id - Kirab Bhinneka Gandekan kembali digelar di Kelurahan Gandekan Solo, Senin (1/6/2026). Event...

Edisi Dasawarsa, Festival Literasi Nasional 2026 Gelar Pentas Karya di Pasar Triwindu

Soloevent.id - Festival Literasi Nasional 2026 kembali digelar di Kota Solo, Jumat-Minggu (22-24/5/2026). Ini...

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...