KOTA KNALPOT KARYA THOEKOEL

KOTA-KNALPOT-KETIKA-POLUSI-MENJADI-PENJARA

“Kalau saya suka naskahnya. Saya pikir kontekstual (dengan kondisi sekarang). Selain kontekstual tentang kota knalpot, lalu tentang polusi di mana-mana juga. Naskah ini juga sedikit bercerita tentang sejarah Indonesia, kan. Orba bagaimana, lalu sekarang bagaimana. Saya pikir naskah ini kontekstual sih,” tutur Retno Sayekti Lawu, sutradara Pentas Produksi XV Kelompok Kerja Teater (KKT) Thoekoel Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dengan judul “Kota Knalpot”, pada 18 Juni 2014 bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo.

Naskah karya Hanindawan berjudul “Kota Knalpot” ini bercerita tentang kehidupan orang-orang kota yang dipenuhi polusi, sehingga memaksa mereka berdesakan dalam keputusasaan. Polusi yang berasal dari cerobong-cerobong asap pabrik ataupun kendaraan bermotor, menjadikan kota sebagai belantara asap. Di balik cerobong-cerobong itu, terdapat orang-orang yang mencari eksistensi diri, mereka bekerja seperti mesin. Merekalah orang-orang yang disebut Karl Marx sebagai orang-orang terasing. Ketika protes adalah jalan tengah untuk mencapai kesetaraan, mereka terhalang oleh tembok tebal bernama peluru dan moncong senapan. Dan ketika berteriak adalah pilihan paling akhir, mau tak mau mereka dipaksa bungkam demi keadaan yang diseragamkan.

Dalam penggarapannya, Lawu masih berada dalam pola khasnya: menjadikan panggung sebagai kanvas dan menggiring imajinasi penonton ke dalam kanvas tersebut, setting yang minimalis, dan olah gerak. Selama kurang lebih 45 menit, penonton dihibur dengan visual panggung yang memanjakan mata.

Ada yang menarik ketika Lawu menampilkan satire di dalam panggung. Yaitu ketika tempo permainan cepat, lalu tiba-tiba dipatahkan dengan munculnya pemain yang berperan sebagai anak-anak. Ia menuntun sebuah mobil-mobilan dari bambu sambil menyanyikan lagu, “Tanah airku tidak kulupakan. ‘kan terkenang selama hidupku. Biarpun saya pergi jauh. Tidak ‘kan hilang dari kalbu….”

Di akhir pentas, anak kecil yang tadi “waras”, mau tak mau terbawa arus oleh kondisi. Mereka kemudian menari. Mungkin dari sini Lawu ingin menyampaikan pesan: menarilah seperti tidak ada hari esok.

Terkait

WORKSHOP BISNIS EVENT ORGANIZER – I LOVE ORGANIZE Siapa yang tidak kenal Sofie Beatrix? Ya, dia adalah seorang professional event organizer sekaligus pembicara serta penulis. Kali ini ia akan berb...
NONTON DRAMA PAKE KACAMATA 3D Ide gila muncul dari para mahasiswa IAIN yang berkecimpung di dunia drama. Emang ada ide gila apa? Kalo nonton bioskop pake kacamata 3d sudah bias...
KEUNIKAN 5 FINALIS PR IDOL Perang PR Idol telah usai, namun kelima finalis PR Idol punya magnet sendiri yang menarik untuk disimak. Kelima finalis PR Idol yang susah payah m...
SEMINAR NASIONAL ISLAM Membuka Tabir Kejayaan Islam Dunia, ini adalah tema yang bakal dikupas tuntas dalam Event Seminar Nasional Islam yang di adakan oleh IT Nur Hidaya...
HANOMAN PECICILAN DI BUDAYA BULAN PURNAMA BALEKAMBANG BALEKAMBANG, SOLOEVENT.CO.ID - hutan kota milik Kota Surakarta ini, menyajikan berbagai acara kebudayaan yang menarik. Terpajang di depan pintu ut...