Gamelan Pusaka Ditabuh, Sekaten pun Dimulai

969

Soloevent.id – Tiap tahun, Kota Solo selalu mengadakan perayaan Sekaten. Biasanya Sekaten dipusatkan di Masjid Agung Surakarta. Untuk wahana hiburannya berada di Alun-Alun Utara.

Sekaten merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW – disebut juga Maulud Nabi. Sekaten diciptakan oleh Walisongo sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Sekaten adalah hasil akulturasi budaya Islam dan Jawa.

Di Solo, Sekaten diadakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tanda dimulainya Sekaten yaitu dengan ditabuhnya sepasang gamelan pusaka, Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari. Dua gamelan yang sering disebut sekati atau sekaten tersebut dimainkan secara bergantian dari halaman Masjid Agung Surakarta seusai salat Zuhur.

Sebelum ditabuh, Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari diarak oleh puluhan abdi dalem dari tempat penyimpanannya di  Langen Katong Keraton Surakarta menuju Masjid Agung. Sesampainya di Masjid Agung, seperangkat gamelan Kiai Guntur Sari diletakan di bangsal selatan bernama Pradonggo, sedangkan Kiai Guntur Madu ditempatkan di bangsal utara atau disebut Pragonggo.

Usai salat Zuhur, para penabuh gamelan mengikuti prosesi pembacaan ayat suci Alquran yang dipimpin ulama keraton. Salah satu kerabat yang diutus raja, kemudian membacakan sejarah singkat Sekaten. Setelah prosesi selesai, para penabuh gamelan menuju kedua bangsal.

Saat gamelan dibunyikan pertama kali, biasanya warga saling berebut janur yang terpasang menghiasi bangsal itu. Secara bersamaan juga warga mengunyah sirih (nginang). Mereka percaya menguyah sirih bisa membuat awet muda.



Gamelan ditabuh selama tujuh hari. Puncaknya berlangsung pada 12 Rabiul Awwal ditandai dengan kirab gunungan Grebeg Mulud.