CURHATAN SEORANG PETANI DALAM SEMAR NUNGGU CANDI

TEATER-SOPO-005


Soloevent.id – Keresahan dapat diekspresikan lewat berbagai bentuk, contohnya seperti seni teater yang dilakukan oleh Teater Sopo. Di Pentas Produksi 20, mereka mengangkat keresahan tentang dunia pangan di Indonesia lewat “Semar Nunggu Candi”.


Kegelisahan ini valid karena ditulis langsung oleh seorang petani tulen. Paiman Hadi Supadmo, Dia adalah petani organik dari Mojogedang, Karanganyar.


TEATER-SOPO-07


“Beliau umurnya sudah 70-an. Dulu waktu muda aktif dalam organisasi kesenian dan belajar tentang pertunjukan. Beliau mulai gencar menulis naskah setelah kenal dengan Pramoedya Ananta Toer,” ungkap sutradara Pentas Produksi 20 Teater Sopo, Listiyo Budi Santoso.


Walau sudah berumur senja, Listiyo mengatakan Paiman masih bisa nyangkul sawah dan sangat sehat, bahkan lebih sehat dari yang berumur muda karena mengonsumsi makanan organik. Paiman pun juga punya sekolah tani organik gratis bagi umum.


TEATER-SOPO-06


Dalam naskah yang ditulisnya, Paiman menceritakan dua kubu, yakni rayap dan kerbau yang punya sifat berlawanan. Itu merupakan cerminan masyarakat Indonesia dalam dunia pangan saat ini.


Cerita berpusat pada tokoh Semar. Ia memimpikan sarang rayap seperti laron yang berterbangan keluar dari sarangnya. Semar berpikir itu bisa terjadi karena ada pembagian tugas yang jelas antaranggota, Sarang rayap punya manfaat yang bagus bagi ekosistem lebih-lebih untuk manusia, misalnya sebagai penyubur tanah dan penumbuh jamur.


TEATER-SOPO-08


“Hal-hal itu berseliweran di kepala Semar, ‘Sebetulnya ada pertanda apa?’. ‘Semar Nunggu Candi’, candi yang dimaksud adalah sarang rayap itu, yang diimplementasikan ke dunia manusia,” ujar Listiyo.


Listiyo berharap pentas ini dapat membuka mata mahasiswa mengenai realita pangan yang ada dan menimbulkan diskusi-diskusi. Sebagai informasi, Teater Sopo mementaskan “Semar Nunggu Candi” sebanyak dua kali, yakni di Mojogedang, Karanganyar, pada 28 Oktober 2017; dan di Taman Balekambang pada 9 November 2017.


 

Penulis: Yasinta Rahmawati

Foto: Reza Kurnia Darmawan