Soloevent.id – Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka perayaan Hari Raya Waisak di Kota Solo pada Sabtu (23/5/2026). Para biksu ini memulai prosesi tersebut dengan cara Thudong atau berjalan kaki dari Vihara Dhamma Sundara menuju Balai Kota Solo.
Acara dimulai dengan atraksi barongsai liong membuka penyambutan para biksu. Di sepanjang jalan para umat Budha bersiap menyambut para biksu dengan prosesi Pindapatta dan Sanghadana. Prosesi Pindapata ini merupakan tradisi sakral umat Buddha dalam rangkaian Waisak di Solo, di mana masyarakat berkesempatan berdana (memberi sedekah) berupa makanan pokok atau dana kepada para biksu (bhikkhu) yang melintas. Kegiatan ini rutin menjadi simbol toleransi yang terbuka bagi siapa saja di Kota Solo. Sedangkan Sanghadana upacara doa dengan memberikan kebaikan dengan mendukung kebutuhan anggota atau para biksu dalam perayaan Waisak.

Tidak hanya umat Budha, para rohaniawan tokoh lintas agama juga menyambut kedatangan para biksu. Perwakilan agama Islam, Konghucu, Protestan, Katolik dan Hindu tampak hadir dan memberikan penghormatan.
Staf Ahli Bidang Politik Pemerintahan dan Hukum, Aryo Widyandoko mengatakan, “Kota Solo terpilih menjadi salah satu rute perjalanan penting Biksu Thudong yang berasal dari berbagai Negara. Ini sangat penting karena masyarakat bisa menilai sendiri cara kita bertoleransi untuk semua agama dan kepercayaan yang ada di Kota Solo,” ujarnya saat memberikan sambutan di acara Pindapata dan Sanghadana.
Sebelumnya, rombongan para biksu sudah memulai ritual Thudong dari Bali. Para biksu tersebut berjalan kaki sejauh 660 km menuju Candi Borobudur Magelang. Ritual ini diikuti 57 biksu dari empat negara yang menjalani tradisi Thudong, yakni Malaysia, Thailand, Laos, dan dari Indonesia.




