Sunday, February 1, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaMenyusun Keping Sejarah Masjid Agung Surakarta

Menyusun Keping Sejarah Masjid Agung Surakarta

Published on

- Advertisement -spot_img

MENYUSUN-KEPING-SEJARAH-MASJID-AGUNG-SURAKARTA

Bagi masyarakat Solo, Masjid Agung Surakarta yang terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon ini begitu bermakna. Masjid yang telah berdiri ratusan tahun ini menjadi saksi bisu perkembangan Kota Solo. Selain kandungan historis yang lekat dengan Keraton Kasunanan Surakarta, kandungan filosofis dari segi arsitekturnya, serta persebaran Islam di kota ini, menjadikan Masjid Agung Surakarta layak untuk menjadi ikon kebudayaan kota.

Untuk melestarikannya, pengurus Masjid Agung membuat sebuah langkah bagus: mendokumentasikannya ke dalam buku. Ya, pada Senin, 14 Juli 2014, diterbitkanlah buku berjudul “Sejarah Masjid Agung Surakarta”. Buku yang diterbitkan oleh Absolute Media dari Yogyakarta itu, memakan waktu lebih dari satu tahun untuk proses pengerjaannya. Awal proses pengerjaan dilaksanakan pada Maret 2013.

Dengan menghimpun bantuan dari akademisi, sejarawan, dosen, wartawan, tokoh masyarakat, serta instansi terkait; pengurus Masjid Agung mulai menyusun kembali kepingan-kepingan sejarah.[quote align=”center” color=”#999999″]“Bukunya dimulai dari sejarah kota. Mulai dari perpindahan Kartasura ke Surakarta, sampai pada Pakubuwono (PB) II, III, IV, V, VI, VII, sampai X.  Jadi (yang dijelaskan) perkembangan-perkembangan yang terjadi dari awal berdirinya sampai sekarang,” kata Purnomo Subagyo,Sekretaris Tim Penulis Buku Sejarah Masjid Agung Surakarta[/quote]Tidak hanya nilai sejarah yang dikupas, melainkan juga nilai filosofi bangunan dan juga kandungan budaya yang erat kaitannya dengan Masjid Agung Surakarta, juga ditampilkan dalam buku tersebut. “Tidak hanya sejarah saja, tapi juga filosofi dari masing-masing bangunan di masjid. Jadi kenapa itu ada ornamen-ornamen, mengapa tiangnya empat, mengapa atapnya itu tiga shaf, itu diungkap,” jelasnya.

Selain itu Purnomo menambahkan, “Kemudian juga menyangkut ritual budaya Jawa yang di Keraton; yang di masjid khususnya seperti Gerebeg, Sekaten, dan sebagainya. Sekaten-nya juga diungkap karena itu telah menyatu dengan keraton. Jadi komplit sekali.”

Ada yang unik terkait dengan proses penyusunan data. Menurut Purnomo, detail penggunaan istilah sering membuat tim eyel-eyelan. Seperti contoh pada kata “garebeg”. Masyarakat pasti lebih mengenal kata “gerebeg” daripada “garebeg”. Ada juga kata yang membuat tim ramai mendiskusikannya, yaitu penggunaan kata “keraton”, “karaton”, ataukah “kraton”, yang paling tepat digunakan menurut kaidah bahasa pada masa lalu. Walaupun dirasa sepele, tapi penggunaan kata yang tidak tepat akan berakibat pada kerancuan makna. Itulah salah satu kesulitan penyusunan buku “Sejarah Masjid Agung Surakarta”.

Purnomo sendiri berharap dengan diterbitkannya buku tersebut bisa menambah pengetahuan bagi yang membaca. “Menambah perbendaharaan (ilmu) bahwa Masjid Agung Surakarta ini dulu punya sejarah. Banyak pengetahuan yang bisa didapatkan dari penulisan sejarah.”

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Annisa & Venly Bongkar Tantangan Akting Paling Berat di Film ‘Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?’

Soloevent.id - Gimana sih rasanya kalau diajak meet n greet dan nonton bareng sama...

Bukan Sekadar Fashion Show, Rotary Club Solo Buktikan Perayaan Ultah Bisa Sambil Bantu Sesama.

Soloevent.id - Dalam rangka merayakan anniversary Rotary Club Solo Sriwedari ke-13 menggelar lomba batik...

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...