Tuesday, May 26, 2026
HomeSeni dan BudayaMisbach Daeng Bilok Ajak Penonton Ke Wakatobi Lewat Karyanya

Misbach Daeng Bilok Ajak Penonton Ke Wakatobi Lewat Karyanya

Published on

- Advertisement -spot_img

MISBACH DAENG BILOK__

Apa jadinya tatkala kehidupan bawah laut coba dihadirkan di atas panggung? Mungkin Misbach Daeng Bilok bisa menjawabnya. Rabu (28/1/2015) malam, lewat karya bertajuk “Teman Bunyi”, sang seniman mengajak para penonton Bukan Musik Biasa #44 untuk berimajinasi. Mereka diajak merasakan ekosistem laut dan kehidupan masyarakat Kepulauan Wakatobi – tempat Misbach mendapatkan ide penggarapan ini.

Di tengah Pendhapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) tampak sebuah karya instalasi musik yang dinamainya “rodeo ikan-ikan”. Karya tersebut terdiri dari tiga bagian: bundaran di bagian atas, senar-senar pancing di bagian tengah, dan cor semen lonjong di bagian bawah yang dihias laiknya terumbu karang. Hasil buah tangan Ali Maksum itulah yang nantinya menggiring penonton untuk memasuki alam Wakatobi.

Sinaran lampu UV yang dipadukan dengan biru akuatik, dan musik ambient bawah laut yang mengalun, mengiringi masuknya seorang penari. Bak ikan, sang penari yang diperankan oleh Luluk  Ari, mulai meliukkan tubuhnya ke sana kemari.

Ia kemudian memulai memainkan karya instalasi tersebut. Senar pancing itu ia petik layaknya memainkan harpa. Sesekali hiasan ikan yang terpasang di senar itu, ia mainkan naik-turun, sehingga tercipta bunyi gesekan. Itu dilakukannya berulang-ulang.

Seiring lantunan musik digital dan tiupan shakuhachi yang semakin intens, di panggung belakang tampak seorang wanita berpakaian putih (diperankan Wirastuti Susilaningtyas) sedang menari. Di sampingnya, tiga orang pria dari Padepokan Brojobuwono sedang membuat keris. Suara tempaan keris itu menjadi suasana ritmis tersendiri. Suasana itu berhiimpun menjadi satu dengan pujian “E…Lele…” yang dilantunkan Misbach.

Karya “Teman Bunyi” merupakan hasil eksplorasi Misbach selama delapan tahun. Pasca melakukan riset di Kepulauan Wakatobi bersama The World Wide Fund for Nature (WWF), ia menemukan keistimewaan tersendiri dari daerah itu. Selain alam, kearifan lokalnya juga menarik untuk diangkat.

“Daerah saya datangi [Kecamatan Binongko], terdapat sekitar 500 keluarga memproduksi pusaka. Dentingan suara yang dihasilkan sangat bagus. Itu yang menginspirasi saya,” tutur Misbcah.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Bank Indonesia Solo Gelar ADIKARYA FEST 2026: Perkuat Sistem Digitalisasi dan UMKM di Solo Raya

Soloevent.id - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Solo kembali menggelar acara ADIKARYA FEST 2026 pada...

Edisi Dasawarsa, Festival Literasi Nasional 2026 Gelar Pentas Karya di Pasar Triwindu

Soloevent.id - Festival Literasi Nasional 2026 kembali digelar di Kota Solo, Jumat-Minggu (22-24/5/2026). Ini...

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

More like this

Edisi Dasawarsa, Festival Literasi Nasional 2026 Gelar Pentas Karya di Pasar Triwindu

Soloevent.id - Festival Literasi Nasional 2026 kembali digelar di Kota Solo, Jumat-Minggu (22-24/5/2026). Ini...

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...