Di Hari Tari Dunia, Lima Penari Ini Pernah Menari Satu Hari Penuh

905

Soloevent.id – Setiap 29 April, beberapa negara merayakan Hari Tari Dunia, termasuk Indonesia. Salah satu kota yang menggelar perayaan tersebut adalah Solo. Di kota budaya ini, Hari Tari Dunia dirayakan lewat event Solo 24 Jam Menari.

Acara yang diselenggarakan sejak 2006 itu dipusatkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dan diikuti oleh ratusan kelompok dari dalam maupun luar Kota Solo.

Seperti nama acaranya, pementasan tari dihadirkan selama 24 jam nonstop. Yang unik lagi, Solo 24 Jam Menari menampilkan penari-penari yang menari selama satu hari penuh. Ada banyak tokoh-tokoh dari dunia tari yang pernah tampil sebagai penari 24 jam.  Berikut adalah daftarnya yang diambil dari 5 tahun terakhir

1. Anggono Kusumo

Pria asal Solo bernama lengkap Anggono Kusumo Wibowo ini tampil di Solo 24 Jam Menari 2015. Saat itu, tim Soloevent sempat mewawancaranya sehabis tampil di Pendhapa ISI Surakarta. Anggono mengaku tertarik dengan dunia tari sejak duduk di bangku SD.

Bagi dia, tampil di Solo 24 Jam Menari bisa melatih ketahanan fisiknya. Harus menari dan bergerak selama 24 jam, Anggono menyebutkan bahwa tantangan terbesarnya adalah rasa kantuk. Demi menunjang performa fisiknya, dia mengonsumsi banyak protein, seperti telur dan madu.

2. Samsuri

Pria yang merupakan staf pengajar Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini adalah salah satu penari 24 jam di tahun 2016. Partisipasinya dalam pergelaran ini merupakan sumbangsih terhadap seni yang sudah membesarkan namanya, yaitu seni tari.

Kala itu, untuk meningkatkan performanya menari selama satu hari penuh, Samsuri giat berolahraga dan juga mengatur asupan makanan dengan mengganti nasi putih dengan nasi merah serta tidak makan gorengan

3. Danang Pamungkas

Pria asal area Kerten, Solo, ini merupakan bungsu dari enam bersaudara. Dia lahir pada 30 Desember 1979 dari pasangan petani yang bermukim di area Banyuanyar, Solo.

Danang sudah mengakrabi tari sejak kecil. Semasa TK, ia berlatih tari dolanan. Di kelas 4 SD, Danang berani tampil di acara HUT Kemerdekaan RI di kampungnya. Bakatnya itulah yang membawa Danang melangkah ke SMKI Solo. Setelah lulus, ia melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) – sekarang berganti nama jadi ISI Surakarta.

Lulus tahun 2005, Danang melahirkan beberapa karya tari pendek. Di tahun 2007, dia menjadi salah satu yang terpilih dari 10 koreografer Indonesia yang mengikuti lokakarya koreografi arahan Lin Hwai-min, seorang korografer ternama asal Taiwan.

Danang Pamungkas ikut memeriahkan Solo 24 Jam Menari tahun 2017. Saat itu, dia membawakan beberapa repertoar karyanya.



4. Wirastuti “Tutut” Susilaningtyas

Wanita lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini berhasil menaklukkan tantangan menari selama 24 jam di Solo 24 Jam Menari tahun 2018. Buat dia, menari sudah menjadi kebiasaan. Sebagai penari 24 jam, Tutut mengaku berlatih setiap hari.

Wanita yang menggeluti dunia tari sejak umur 9 tahun itu berhasil menunjukan jiwa seninya hingga ke berbagai belahan dunia. Tutut juga bergabung dengan Solo Dance Studio di bawah bimbingan Eko Supriyanto, koreografer Indonesia yang pernah menjadi penari latar diva internasional, Madonna.

Sejak itulah Tutut berubah. Bagi dia, menari bukan sekadar menggerakkan tubuh, melainkan juga salah satu cara membaca dunia.

5. Sri Anjani Savitri

Mojang belia asal Bandung ini ikut memeriahkan pergelaran Solo 24 Jam Menari tahun 2018. Saat itu Anjani menjadi ikon utama alias penari 24 jam bersama 2 rekan penari lainnya, Wirastuti Susilanigtyas (Solo) dan Agatha Irena Praditya (Yogyakarta).

Perempuan yang berkuliah di Jurusan Tari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung itu beberapa kali mengikuti workshop program tari di dalam dan luar negeri. Dia juga berpartisipasi sebagai pengisi dan instruktur workshop The 7th Asian Yoouth di tahun 2017. Anjani punya beberapa karya tari, di antaranya Badut (2011), Appa (2015), dan Adhidaiva (2017)