5 Penulis Wanita Indonesia dan Pemikirannya

694
Foto: unsplash.com (Aaron Burden)

Soloevent.id – Melalui tulisan, R.A Kartini berhasil membawa sebuah pegerakan untuk membangkitkan derajat kaum perempuan Indonesia. Jiwa menulis perempuan-perempuan Indonesia tidak hanya berhenti pada Kartini saja. Hingga sekarang, banyak penulis wanita di Indonesia dengan karya-karya membanggakan.

Siapa saja mereka? Berikut ini lima penulis wanita Indonesia versi Soloevent.

1. Dewi Lestari

Nama Dee sepertinya sudah banyak dikenal para penikmat buku. Dee yang pernah berkuliah di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Bandung, itu telah merilis banyak buku, salah satu yang terkenal adalah seri Supernova yang hadir dalam 6 buku, yakni Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (2001), Supernova: Akar (2002), Supernova: Petir (2004), Supernova: Partikel (2012), Supernova: Gelombang (2014), dan Supernova: Intelegensi Embun Pagi (2016).

Selain Seri Supernova, perempuan bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong ini juga dikenal sebagai penulis buku Filosofi Kopi yang berisi tentang kumpulan cerita pendek yang ditulisnya sepanjang 1995-2005. Buku tersebut terpilih sebagai “The Best Literary Work of 2006” versi  majalah Tempo, dan di tahun yang sama mendapat predikat Top 5 Khatulistiwa Literary Award.

Lewat karya-karyanya itu, mantan personel Rida Sita Dewa ini menyampaikan beberapa pesan, salah satunya lewat buku Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh yang menuliskan bahwa momentum itu tidak dapat dikejar, melainkan hadir. Saat momentum itu lewat, ia tidak akan menjadi sebuah momentum, tetapi hanya kenangan saja dan kenangan tidak akan membawa kita kemana-mana.

2. Okky Madasari

Pada 2012 lalu, lewat novelnya yang berjudul Maryam, Okky menjadi pemenang termuda dalam Sastra Khatulistiwa. Saat itu, Okky berusia 28 tahun. Lewat buku-bukunya, perempuan kelahiran 30 Oktober 1984 itu ingin mengungkapkan ketidakadilan dan diskriminasi. Intinya, Okky berusaha memperbincangkan tentang kemanusiaan.

Kepedulian Okky terhadap isu-isu itu terlihat sejak novel pertamanya, Entrok, yang membahas soal militerisme di masa Orde Baru. Selain fiksi, Okky juga menulis karya non-novel berjudul Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam, dan Sastra Perlawanan. Bukunya itu menelusuri pemikiran-pemikiran yang membentuk jagat sastra Indonesia.

Tak hanya membuat novel yang dikonsumsi orang dewasa, Okky juga tergerak membikin karya yang bisa dibaca oleh anak-anak. Empat bukunya itu adalah Mata di Tanah Melus, Mata dan Rahasia Pulau Gapi, Mata dan Manusia Laut, serta satu lagi judul yang belum diterbitkan. Langkah ini diambil Okky karena dia prihatin dengan kualitas bacaan untuk anak-anak.



3. Leila S. Chudori

Penulis yang bekerja juga sebagai jurnalis ini dikenal sebagai penulis cerita pendek. Cerita pertamanya yang berjudul Si Kuncung diterbitkan dalam majalah anak-anak, kemudian di majalah remaja Kawanku Hai. Itu terjadi saat dia baru berusia 12 tahun.

Leila juga menulis skrip untuk serial TV Dunia Tanpa Koma. Tulisannya tersebut berhasil diganjar “Penulis Skrip Televisi Terbaik” lewat Festival Film Bandung di tahun 2007. Ia juga ambil bagian untuk penulisan skrip film Drupadi di tahun 2008. Setahun kemudian, Leila merilis kumpulan kisah-kisah berjudul 9 dari Nadira.

Di tahun 2012, perempuan kelahiran 12 Desember 1962 ini merilis novel berjudul Pulang yang memperoleh penghargaan dari Khatulistiwa Literary Award. Pulang berisi tentang kumpulan kisah-kisah pendek yang menceritakan tentang drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan dengan mengambil latar belakang tiga peristiwa bersejarah, yaitu Indonesia 30 September 1965, Perancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

4. Mira W

Mira Widjaja atau yang dikenal dengan nama pena Mira W. merupakan salah satu penulis senior di Indonesia. Perempuan kelahiran 13 September 1951 ini berprofesi sebagai dokter sebelum memulai karir di bidang penulisan roman dan kriminal. Ia kerap menuangkan kehidupan  rumah sakit kedalam ceritanya.

Karya pertama Mira yang dikenal banyak orang adalah sebuah cerpen berjudul Benteng Kasih yang dimuat oleh majalah Femina pada tahun 1972. Saat menulis cerpen itu, Mira masih menjadi mahasiwa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

Novel yang berhasil menaikkan namanya adalah Di sini Cinta Pertama Kali Bersemi yang terbit pada 1980. Novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film pada tahun yang sama. Hingga tahun 1995, Mira telah menerbitkan lebih dari 40 novel. Tak sedikit tulisanya yang diadaptasi menjadi karya sinematografi.

5. Ayu Utami

Justina Ayu Utami, perempuan yang cukup tegas dan kritis ini merupakan seorang aktivis, jurnalis, dan sastrawan. Ayu lahir pada 21 November 1968, ia menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Dari latar belakangnya tersebut, Ayu selalu menyelipkan dukungannya terhadap gerakan-gerakan feminisme, sama seperti yang dilakukan sastrawan senior, NH Dini.

Saman adalah novel pertama yang diterbitkan Ayu. Karyanya tersebut membuat namanya dikenal banyak orang karena berhasil menjuarai sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998. Saman berhasil terjual sebanyak 55 ribu eksemplar dalam waktu tiga tahun.