Film Dokumenter Rekam Jejak Budaya Jawa Tengah

0
75

ENAM-FILM-DOKUMENTER-REKAM-JEJAK-BUDAYA-JAWA-TENGAH_

Soloevent.id, SURAKARTA – Film dokumenter hadir sebagai bentuk pengabadian potret kondisi realitas masyarakat. Sisi sosio-kultural merupakan salah satu obyek menarik yang dapat diangkat melalui frame dokumenter. Berkenaan dengan itu, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) bekerjasama dengan Kine Klub FISIP UNS menyelenggarakan event bertajuk Jawa Tengah in Frame. Festival film tersebut dihelat di Galeri TBJT pada Jumat-Minggu (22-24/8/2014).

“Taman Budaya sebagai pusat kebudayaan di Jawa Tengah, ingin mengapresiasi para film maker yang menggali kekayaan seni dan budaya yang ada,” jelas Koordinator Festival Film Dokumenter 2014, Hanindawan.

Ada tiga judul film dokumenter yang diputar pada Sabtu malam. Ketiganya mencuplik kehidupan budaya dan lokalitas Indonesia yang kaya. Diawali oleh Ritual Rambut Gimbal, karya Uut Iswahyudi, film dokumenter ini menceritakan tentang tradisi ruwatan yang masih dipegang erat oleh masyarakat Dieng, Wonosobo.

Ruwatan tersebut diperuntukkan kepada para anak yang terlahir gimbal. Menurut mitos yang berkembang di daerah dataran tinggi itu, apabila rambut anak tersebut tidak dipotong, maka akan menimbulkan musibah bagi dirinya dan keluarga.

Selanjutnya adalah Di Balik Serat Centhini. Kebanyakan orang menganggap bahwa Serat Centhini merupakan Kamasutra-nya Jawa. Justru film dokumenter keluaran 2009 ini tidak membahas konteks itu. Dengan alur yang halus dan mudah diserap, Novian Anata Putra mencoba membongkar ilmu-ilmu lain yang tersurat dalam karya sastra gubahan Pakubuwono V tersebut.

Salah satu pengungkapan datang dari akademisi Murdijati Gardjito, yang mengungkapkan bahwa masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal diversifikasi makanan. Dalam film dokumenter berdurasi kurang lebih 25 menit ini juga mengisahkan bagaimana seorang Perancis bernama Elizabeth D. Inandiak mendapatkan “panggilan” dari serat yang bernama lain Suluk Tembanglaras itu untuk mendalaminya lebih, hingga akhirnya ia menerjemahkan mahakarya kesustraan Jawa Baru itu ke dalam Bahasa Indonesia.

Tak Mati Karena DItanggap Fungsi hadir sebagai penutup acara hari kedua, Film dokumenter besutan Ardhi Perdana ini menceritakan bagaimana ketoprak Pati yang notabene ketoprak tanggapan dapat bertahan hingga kini, dengan antusiasme penonton yang tak kurang. Ketoprak tanggapan merupakan istilah Bahasa Jawa yang berarti grup kesenian tradisional itu hanya menggelar pertunjukannya tatkala ada orang yang mengundang untuk pentas, semisal acara bersih desa atau pernikahan.

Masih adanya orang yang nanggap ketoprak lantaran menganggap bahwa teater tradisional itu mempunyai peran untuk menyampaikan fungsi. Seperti fungsi ritual, fungsi ekonomi, fungsi sejarah, dan lain-lain. Jadi dengan adanya pentas ketoprak, tidak hanya si pengundang yang terhibur. Masyarakat di sekitarnya pun dapat merasakan efek positif dengan adanya pergelaran ketoprak.

Selain film dokumenter di atas, dalam perhelatan ini juga diputar karya dari tiga sineas lain pada Minggu malam. Tiga judul film dokumenter itu yakni Ruwatan (karya S. Maryati), Wayang Golek Cepak Tegal (karya Andy Prasetyo), dan It’s a Beautiful Day (karya Tonny Trimarsanto).

Dari tiga hari penyelenggaraaan Festival Film Dokumenter 2014 “Jawa Tengah in Frame”, Hanindawan berharap dari event tersebut mampu memberikan pengetahuan pun informasi tentang ragamnya budaya Indonesia kepada publik. Selain itu juga menjadi pemacu sutradara-sutradara lain untuk menghasilkan karya yang mengeksplorasi sisi-sisi budaya yang belum dijamah. “Banyak sekali di lingkungan kita, misal kehidupan pasar, kuda lumping, kehidupan wedangan, banyak sekali yang perlu kita rekam, dan itu akan abadi dalam sebuah dokumen,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here