FARID STEVY: IDEALISME ITU OMONG KOSONG

 

Soloevent.id – Tidak banyak yang tahu, selain diperlukan untuk kebutuhan keindahan, desain rupanya juga punya fungsi lain untuk memecahkan masalah sosial. Hal tersebut dikupas dalam creative sharing bersama Farid Stevy Asta, pada Minggu (9/7/2017), di Gelanggang Pemuda Bung Karno Manahan.

 

Creative sharing ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam DKV ACT 2017, sebuah kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Mengangkat tema “Social Creativity”, mahasiswa DKV diajak untuk menawarkan solusi alternatif dengan pendekatan desain bagi permasalahan sosial di sekitar.

 

Pada sesi creative sharing, Farid Stevy berbagi pandangan dan pengalamannya mengenai sosial creativity. “Apa itu kreativitas? Simpelnya sih membuat sesuatu yang baru dan berguna. Berarti [kreativitas] ada tiga indikatornya: membuat, baru, dan berguna,” ujarnya. Namun, menurut founder Libstud itu, menjadikannya berguna ialah hal tersulit.

 

“Bicara tentang social creativity, yang harus digaris bawahi adalah baik. Yaitu membuat sesuatu yang baru, solutif dan baik untuk masyarakat,” tambahnya. Lalu apa yang harus dilakukan anak DKV agar bisa berpartisipasi dalam kegiatan sosial? Farid Stevy menekankan untuk mengesampingkan idealisme.“Desainer punya idealisme itu omong kosong. Idealisme desainer ya memecahkan masalah itu,” ungkapnya.

 

Vokalis band FSTVSLT ini kemudian menceritakan pengalamannya memenangkan sayembara logo PT KAI pada tahun 2011. Saat itu ia banyak dicaci oleh sesama desainer yang bilang karyanya terlihat ndeso.

 

Tidak marah, malah sebaliknya ia merasa logonya memecahkan permasalahan PT KAI. “Saya malah senang orang anggap logo itu ndeso, karena saya tau market-nya PT KAI itu middle low, jadi yang dibutuhkan logo simpel, enggak aneh-aneh dan enggak mewah,” terangnya.

 

Farid Stevy menyampaikan ada satu kredo (pernyataan atas sebuah kepercayaan) jika anak DKV harus berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Namun, nyatanya sebagian besar berpihak pada hal sebaliknya, yakni bekerja untuk perusahaan kapitalis.

 

Menanggapi kredo tersebut, Farid Stevy mempunyai pikiran yang realistis. “Desainer? Agen sosial atau agen kapital? Kita harus sadar berada di dua itu. Kalau berpihak ke salah satu saja, contohnya sosial, itu enggak baik soalnya kita butuh hidup. Melakukan perimbangan keduanya memang lumayan berat sih, tapi harus dilakukan,” ujarnya. Ia kemudian memperlihatkan beberapa contoh social creativity miliknya dan orang lain.

 

Baginya, manusia dengan profesi apapun punya fungsi yang baik untuk sesama. Hal itu bisa dimulai dengan poyek kecil di sekitar. “Daripada menghujat, lebih baik diam dan melakukan hal berguna bagi sesama,” tutupnya.

 

Terkait

ISLAMIC BOOK FAIR GANTI VENUE Solo Islamic Book Fair sudah bukan menjadi agenda langka bagi para pecinta buku dan perlengkapan islami. Kali ini Solo Islamic Book Fair 2014 baka...
INDONESIA APPAREL PRODUCTION EXPO 2014 Media Kreasi mengadakan event Indonesia Apparel Production Expo 2014 – Solo . Indonesia Apparel Production Expo 2014 merupakan sebuah Pameran Bisn...
PAMERAN TEXTILE FROM TRADITION TO MODERN Pameran bertajuk Textile 2014: From Tradition To Modern akan digelar oleh Kriya Seni dan Tekstil Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Solo. Kegiatan...
HELLO GARAGE SALE BACK TO 50’s Hello Garage Sale dan nuansa fashion 50’s hadir di kota Solo. Elvis Presley, Marilyn Monroe, James Dean, Audrey Hepburn dan masih banyak refrensi ...
DISTURBIA MEMBUMI Bumi semakin menua dan melestarikan planet yang kita diami ini adalah hal yang wajib bagi manusia. Terkadang kita mulai acuh dengan kondisi bumi d...